Apakah Aborsi Pada Korban Pemerkosaan Dibenarkan?

Apakah Aborsi Pada Korban Pemerkosaan Dibenarkan??? – Peraturan Pemerintah No 61 Tahun 2014 tentang kesehatan Reproduksi menuai kontroversi dari berbagai pihak. Karena dinilai melegalkan praktek aborsi pada korban pemerkosaan dan dianggap bisa dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab untuk melakukan praktek aborsi.

Apakah Aborsi Pada Korban Pemerkosaan Dibenarkan?

Apakah Aborsi Pada Korban Pemerkosaan Dibenarkan?


“Saya kaget PP 61 ini disosialisasikan sebab nantinya bisa dimanfaatkan oleh orang yang tak bertanggungjawab sehingga aborsi illegal” ujar Ketua Dewan Pimpinan MUI Bidang Pemberdayaan Perempuan Tutty Alawiyah.

Kriminolog Universitas Padjadjaran, Yesmil Anwar menyatakan bahwa PP 61 Tahun 2014 hanyalah kelanjutan dari UU 36 tentang Kesehatan, dimana pasal 75 berbunyi : “Setiap orang dilarang melakukan aborsi. Larangan aborsi dapat dikecualikan berdasarkan indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, dan kehamilan akibat pemerkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban pemerkosaan”.

Komisi Nasional (Komnas) Perempuan mengatakan kasus kekerasan seksual bisa terjadi pada siapa saja, kapan pun dan dimanapun. Kekerasan seksual terjadi di semua ranah yakni ranah personal, publik dan ranah Negara. Jumlah yang paling tinggi terjadi di ranah personal sebanyak ¾ dari total kekerasan seksual. Di ranah personal artinya kekerasan seksual dilakukan oleh orang yang mempunyai hubungan darah (seperti ayah, adik, kakak, paman, kakek), kekerabatan dan perkawinan (suami), maupun relasi intim (pacar) korban.

Jumlah terbesar kedua adalah kasus kekerasan seksual yang terjadi di ranah publik yang berarti kasus dimana korban dan pelaku tidak mempunyai hubungan kekerabatan, darah maupun perkawinan. Pelaku bisa jadi adalah majikan, tetangga, guru, teman sekelas, tokoh masyarakat, teman sekerja ataupun orang yang tidak dikenal.

Apakah Aborsi Pada Korban Pemerkosaan Dibenarkan???
Aborsi atau menggugurkan janin dalam kandungan dilihat dari kemanusiaan dan agama hukumnya salah. Apapun caranya, aborsi merupakan bentuk pembunuhan terhadap calon manusia yang mempunyai hak untuk hidup di dunia ini. Namun, untuk kasus-kasus tertentu, praktik aborsi dibolehkan baik dari sisi hukum maupun agama. Bahkan menurut Ketua Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait, selama belum menjadi janin atau manusia, aborsi diperbolehkan bagi mereka yang kehamilannya beresiko dari sisi medis ataupun korban pemerkosaan.

“Peraturan itu bentuk perlindungan hukum bagi perempuan termasuk korban pemerkosaan. Akan tetapi, kita lihat umur kandungannya dulu. Selama kehamilannya belum berbentuk janin atau manusia atau usia kehamilan dibawah usia 40 hari maka aborsi dibenarkan” ujar Arist Merdeka Sirait. Namun, jika kandungan sudah diatas 40 hari atau berbentuk janin yang bernyawa maka praktek aborsi sudah tidak dibenarkan karena bertentangan dengan Undang-undang Perlindungan Anak.

Sementara itu, dari sisi agama, Sekretaris Umum PP Persis Irfan Safrudin menyatakan dari aspek kemanusiaan yang paling dasar, semua calon manusia berhak hidup meski dari jalan apapun, dan dari sisi agama aborsi tidak dibolehkan. Namun jika kehamilan beresiko tinggi terhadap kesehatan atau bahkan nyawa sang ibu, maka hal ini bisa menjadi pengecualian.

Demikianlah yang bisa saya sampaikan mengenai ulasan sedikit tentang Apakah Aborsi Pada Korban Pemerkosaan Dibenarkan???. Semoga bermanfaat bagi pembaca. Baca juga : Mengenal Lebih Dalam Cara Mendidik Anak

Apakah Aborsi Pada Korban Pemerkosaan Dibenarkan? was last modified: January 25th, 2015 by

Gallery of Apakah Aborsi Pada Korban Pemerkosaan Dibenarkan?

Apakah Aborsi Pada Korban Pemerkosaan Dibenarkan?