Nasib Resepsionis Yang Menjadi CEO

Kali ini saya bermaksud berbagi kisah seorang besar yang mengawali semua kisah suksesnya dari sebuah kepedulian. Ternyata menjadi peduli bukan sebuah kesia-siaan, bahkan bisa membuka jalan bagi Anda. Karena kepedulian ternyata salah satu modal dasar seorang enterpreuner untuk memimpin timworknya dan melayani konsumen.

nasib resepsionis yang menjadi ceo

Berikut kisahnya.

Pada suatu tengah malam pada awal musim gugur yang sangat dingin, tepatnya di salah satu sudut kota Philadelphia di Amerika. Tampak sepasang suami istri pada kisaran usia 50 – 60 tahun masuk ke sebuah hotel kecil. Mereka terlihat lelah dan tentu saja kedinginan.

Kedatangan mereka berdua  mendapat sambutan ramah oleh seorang resepsionis hotel, sebagaimana mestinya. Resepsionis ini adalah seorang pria muda usia tengah 20an. Sang suami bertanya pada resepsionis:
“Apakah masih ada kamar untuk kami berdua?”

Sang resepsionis menjawab secara diplomatis :
“Maaf Pak, semua kamar penuh, kebetulan di kota ini sedang berlangsung 3 event besar dalam rangka menyambut musim gugur, jadi semua hotel sudah penuh.

Mendengar jawaban si resepsionis, suami istri ini kemudian beranjak pergi…tentu saja dengan keraguan akan menemukan kamar di hotel lain di kota tersebut.

Tapi tiba-tiba, kepedulian datang pada sang resepsionis dan memanggil mereka lagi…

“Maaf, pak…mungkin ada yang bisa saya bantu. Di luar sangat dingin dan rasanya mustahil menemukan kamar di hotel lain. Kalau anda berdua bersedia, bapak dan ibu boleh menginap di kamar saya, beri saya waktu sebentar untuk merapikan kamar saya untuk anda berdua.” Begitulah ujar  resepsionis.

Udara dingin yang menusuk di luar, memaksa kedua orang tua ini menyetujui penawaran tersebut. Tanpa diduga, kamar sang resepsionis ini telah ditata dengan apiknya sehingga menyerupai kamar dalam hotel sederhana. Lengkap dengan sprei bersih beraroma segar, ruangan yang sangat bersih dan harum. Tampak jelas sang resepsionis sengaja menata kamarnya untuk memuaskan kedua orang tua ini.

2 tahun pun berlalu.

Sang resepsionis masih tenggelam dalam aktivitasnya di hotel sederhana tadi. Peristiwa di malam musim gugur ini sudah hilang dari memorinya. Baginya ini hanya satu bagian dari pekerjaannya sebagai resepsionis dan pengabdiannya dalam pekerjaan. Hingga pada suatu hari dia menerima surat ari satu kota besar, New York…

Dalam surat ini sang resepsionis muda mendapat undangan untuk datang mengunjungi pasangan tua tersebut di New York.Terlampir pula, tiket pesawat pulang-pergi. Setibanya di New York, pria tua itu membawanya ke sudut 5th Avenue & 34th Street. Lantas menunjuk sebuah gedung baru nan megah menyentuh langit. Dengan bangunan menyerupai istana megah, konon adalah bangunan paling megah pada masa itu.”Itu adalah hotel yang baru saja saya bangun dan saya minta Anda kelola.” Begiu jelas pria tua tadi.

“Ah..Anda pasti sedang bercanda,” jawab resepsionis.

“Tidak,saya sangat serius, saya butuh pemimpin dengan integritas dan kepedulian yang tulus dan Anda orangnya…”
Jawab lelaki tua itu, dengan sangat yakin.

Ternyata pria tua itu adalah William Waldorf Astor dan bangunan megah tersebut tadi adalah Waldorf-Astoria Hotel. Sedang sang resepsionis adalah George C. Boldt seorang CEO dari jaringan Waldorf-Astoria Hotel yang kini berdiri di hampir seluruh kota-kota besar di seluruh dunia.

Nasib Resepsionis Yang Menjadi CEO was last modified: September 5th, 2013 by

Gallery of Nasib Resepsionis Yang Menjadi CEO