Review Buku “Madre”

MadreJudul Buku          : Madre

Penulis                 : Dee (Dewi Lestari)
Penerbit              : PT. Bentang Pustaka
Tahun Terbit      : 2011

Tebal                     : 162 halaman
 “Apa rasanya jika sejarah kita berubah dalam sehari?

 

Darah saya mendadak seperempat Tionghoa,
Nenek saya seorang penjual roti, dan dia,
Bersama kakek yang tidak saya kenal,
Mewariskan anggota keluarga baru yang tidak pernah saya tahu:
Madre.”

 

Madre merupakan karya terbaru seorang Dee atau Dewi Lestari. Salah seorang penulis yang sudah masuk dalam jajaran penulis terkaya di Indonesia. Bagaimana tidak? Setelah perahu kertas dan rectoversonya diangkat ke layar lebar, kali ini giliran karya teranyarnya yang menjadi incaran sutradara handal Hanung Bramantyo. Aktor Vino G Sbastian serta Laura Basuki ikut menambah daya tarik film Madre ini.

Seperti biasa Dee tidak pernah gagal membuat buku-bukunya menjadi laris dipasaran. Sama halnya dengan Filosofi kopi dan rectoverso, Madre juga sebuah kumpulan cerpen dan prosa yang mencakup 13 Bab. Tak berbeda dengan karya-karyanya yang lain tulisan-tulisan Dee selalu memiliki kekuatan tersendiri yang mampu menghipnotis para penikmatnya untuk terus tenggelam dalam permainan kata-katanya.

Buku ini diawali dengan cerpen berjudul “Madre”. Cerita berawal dari seorang Tansen yang mendadak mendapatkan surat warisan dari orang yang tak dikenalnya sama sekali bernama Tan Sin Gie. Dari Bali dia meluncur menuju Jakarta untuk menghadiri pemakaman sekaligus melihat warisan yang di tinggalkan oleh orang bernama Tan Sin Gie tersebut.

Sesampainya disana Tansan dibawa oleh pengacara menuju ke sebuah bangunan tua yang terlihat seperti bekas toko roti. Sesampainya disana Tansan diperkenalkan kepada orang kepercayaan Tan Sin Gie, pak Hadi, yang kemudian menunjukan warisan peninggalan Tan Sin Gie, yang tidak lain tidak bukan adalah kakek Tansan sendiri, berupa adonan biang bernama Madre.

Namun apa yang diwariskan kepadanya serta cerita-cerita masa lalu berhubungan dirinya membuat Tansan sangat ingin menganggap hal tersebut hanyalah sebuah lelucon dari orang yang sudah mati. Bagaimana bisa secara mendadak dia memiliki seperempat darah tionghoa dari kakek yang tidak pernah dikenalnya sama sekali? Lalu apa hebatnya mewariskan sebuah benda mati berupa adonan biang? Lalu bagaimanakah kelanjutan dari nasib Tansan?

Review Buku “Madre” was last modified: June 21st, 2013 by

Gallery of Review Buku “Madre”